DEMOKRASI DAN OTORITARIANISME

 BAB XI


DEMOKRASI DAN OTORITARIANISME

Antara Demokrasi dan Otoritarianisme: Tantangan Iliberal

Aktor-aktor otoriter ingin melemahkan demokrasi dengan berpura-pura menjunjung tinggi prinsip-prinsip demokrasi, namun secara diam-diam menumbangkannya. Hal ini mengakibatkan sistem politik berpotensi menyelenggarakan pemilu yang kompetitif namun melemahkan norma-norma demokrasi dengan berbagai cara otoriter. Sistem politik seperti ini sering kali diberi label 'demokrasi tidak liberal', namun sistem tersebut tidak boleh diberi lapisan demokrasi, karena prosedurnya sangat mengganggu pemilu. Sebaliknya, rezim yang tidak liberal harus disebut otoriter agar dapat mencerminkan kenyataan dengan lebih akurat. Meskipun demikian, terdapat perbedaan bermakna yang dapat dibuat antara berbagai bentuk otoritarianisme. Dibandingkan dengan sistem otoritarianisme tertutup, negara-negara yang disebut demokrasi tidak liberal lebih demokratis dalam banyak hal, sehingga sebutan otoritarianisme elektoral dan otoritarianisme kompetitif lebih tepat. Strategi otoriter bervariasi. Hal ini dapat berupa perebutan kendali atas media, pelemahan supremasi hukum, atau mobilisasi sumber daya negara untuk kampanye. Aktor-aktor otoriter juga dapat meningkatkan peluang mereka melalui keputusan-keputusan teknis: melakukan penindasan terhadap pemilih, mengubah batas daerah pemilihan, atau mengubah peraturan pemilu, misalnya. Namun, strategi otoriter yang terang-terangan seperti melarang oposisi politik dan meluasnya kecurangan dalam pemilu lebih sejalan dengan otoritarianisme tertutup. Mengidentifikasi strategi otoriter sangat penting untuk melawannya sejak dini dan diharapkan dapat mencegah kemunduran menuju pemerintahan otoriter.

Komentar